Thursday, January 15, 2015

SatuHarapan.Com | Film Filosofi Kopi & Sastra | Januari, 2015 | by Fransisca Christy Rosana


Film Filosofi Kopi

Sejauh mana sih keterlibatan Dee sebagai penulis cerpen dalam pembuatannya?

Peran saya di Filosofi Kopi semacam produser konsultan. Dari mulai pembangunan cerita awal, supervisi skenario, hingga datang ke reading. Angga Sasongko (sutradara/produser film Filosofi Kopi) sangat membuka diri dan memang ingin melibatkan saya dalam proses penggarapan cerita. Saya tidak ikut di produksi yang sifatnya teknis, jadi fokus di penceritaan saja.

Apakah Dee juga akan masuk frame seperti film Perahu Kertas 1?

Sejauh ini belum ada rencana. Tapi kemungkinan besar enggak.

Dalam film, dimunculkan tokoh El atau tokoh yg sebelumnya tidak ada dalam cerpen. Apakah Dee yang memberi rekomendasi atau memang sudah menjadi keputusan tim produksi? Apa sebenarnya alasan dimunculkannya El dalam film Filosofi Kopi? Apakah agar cerita menjadi 'segar' atau memang ada isu lain yg ingin diangkat melalui tokoh El?

Dari awal saya sudah mengusulkan adanya “orang ketiga” dalam konstelasi karakter Filosofi Kopi. Tujuannya sih supaya cerita bisa berkembang lebih kaya dan dramatis. Ini memang tipikal kalau film diadaptasi dari cerpen, biasanya terjadi pengembangan. Pada novel, yang terjadi biasanya sebaliknya, pengurangan. Kebetulan, Angga dan Jenny (penulis skenario) juga berpikir sejalan. Jadi, dari masih tahap sinopsis, tokoh ini sudah kita putuskan bakal ada. Tentu, masuknya tokoh El harus punya tujuan kuat untuk membangun cerita, jadi nggak hanya pemanis saja.

Hampir seluruh karya Dee kini diangkat menjadi film, apakah rencananya Petir, Akar, Partikel, dan Gelombang juga akan difilmkan?

Belum ada kontrak apa-apa untuk serial Supernova berikutnya. We’ll see.

Adakah kekhawatiran Dee akan adanya reaksi 'mainstream' penonton yg biasanya berkomentar "filmnya nggak sesuai sama cerpennya" atau "lebih bagus cerpennya daripada filmnya" mengingat penonton Indonesia saat ini kurang dapat memaknai ungkapan 'adaptasi novel atau cerpen' dalam sebuah film?

Itu sepertinya sudah rutinitas yang harus dijalani, sih. Film itu pasti ada yang suka dan tidak. Terlepas itu diangkat dari buku atau bukan. Jadi, film dari buku pun sama saja pada dasarnya, bakal ada yang suka dan enggak, cuma ada variasi komentar “lebih bagus” atau “lebih jelek” atau “mirip” sama bukunya. Ada komparasi. Saya rasa, di seluruh dunia juga sama, nggak hanya di Indonesia. Itu memang sudah nasibnya film hasil adaptasi. Saya nggak terlalu khawatir mirip/enggak dengan buku sih, lebih khawatir kalau filmnya jelek.


Karya Sastra

Beberapa kritikus sastra beranggapan karya-karya Dee masuk dalam genre abu-abu, antara karya sastra dan karya populer. Bagaimana Dee menanggapinya?

Sepertinya memang posisi saya demikian. Sejujurnya, saya tidak menyengajakannya juga. Dikotomi karya sastra dan karya pop adalah hal yang tidak menjadi pertimbangan ketika saya berkarya. Saya lebih tertarik ke persoalan membangun cerita dan cara bercerita. Mungkin, pendekatan saya demikian karena begitu jugalah ekspektasi saya terhadap sebuah buku. Ceritanya memikat atau tidak. Itu saja. Mau itu sastra atau bukan, saya nggak peduli. Dan kayaknya itu memang lebih baik jadi tugas kritikus. Tidak usah menjadi beban penulis.

Apakah menurut Dee pengelompokan genre sastra itu menjadi penting dalam kiblat penulisan sebuah karya?

Penting bagi telaah sastra dan kategorisasi di toko buku. Kalau kiblat penulisan, yang saya lihat hanya konten. Ketertarikan saya sangat acak, dari mulai komik Jepang, kajian UFO, sampai buku puisi Sapardi. Saya nggak pernah fanatik terhadap satu genre tertentu.

Apakah menurut Dee segmentasi pembaca juga pada akhirnya akan berpengaruh terhadap dikamar-kamarkannya karya sastra?

Segmentasi pembaca itu banyak basisnya, bisa dari usia, gender, kelas ekonomi, dsb. Saya nggak tahu persis bagaimana kausalitas segmentasi pembaca dengan kategori buku, pengaruh sih pasti ada, tapi kayaknya ini lebih relevan bagi pelaku industri buku seperti penerbit, toko buku, dan sebagainya. Kritikus juga punya tugas dan sudut pandangnya sendiri. Kalau buat saya pribadi, semua itu tidak mempengaruhi proses kreatif saya. Dibuat “kamar-kamar” boleh, tidak juga tidak apa-apa.

Wednesday, January 14, 2015

Info PEDAS - Bali's Lifestyle Magazine | Mimpi & Resolusi | Januari, 2015 | by Nurlailati Tha


Pada karya terbaru Anda seri Supernova: Gelombang, membahas tentang mimpi dan imajinasi. Menurut Anda, apa arti dari imajinasi?

Imajinasi bagi saya adalah sebuah realm, sebuah dimensi yang eksis secara paralel dengan realitas fisik. Manusia kreatif adalah manusia yang sering bolak-balik antar kedua dimensi ini. Dengan terlatih, mereka membangun akses dan koneksi dengan dimensi imajinasi.

Mengapa Anda mengambil tema mimpi dalam karya Anda tersebut?

Mimpi adalah misteri yang sejauh ini manusia modern baru bisa menggaruk permukaannya saja. Beberapa tradisi spiritual kuno malah jauh lebih advans menggali dimensi mimpi. Saya tertarik untuk mengangkatnya. Dan, tema mimpi yang dialami Alfa (tokoh utama dalam Gelombang) juga punya kesesuaian dengan plot besar Supernova, jadi klop.

Melalui seri Supernova: Gelombang ini, apakah ada pesan dan kesan yang ingin Anda sampaikan?

Saya jarang sekali punya misi pesan dan kesan dalam buku-buku saya. Kalaupun ada, itu lebih seperti efek sekunder ketimbang tujuan utama, yang biasanya pembacalah yang menarik kesimpulan dan kesan masing-masing. Tujuan utama saya dalam Gelombang adalah memberikan titik-titik terang bagi serial Supernova yang menjadi pijakan bagi episode final nanti. Dalam Gelombang, terungkap penjelasan tentang peran dan fungsi sebagian besar karakter dan sudah mulai ada gambaran kasar tentang misi mereka.

Bagaimana perasaan Anda setelah edisi terbaru Supernova telah terbit?

Senang dan lega, tentunya. Saya berhasil berkomitmen untuk tidak mengerjakan proyek menulis apa pun di jeda antara Partikel dan Gelombang. Bagi saya, itu prestasi tersendiri.

Setelah Gelombang, apakah ada seri selanjutnya dari Supernova?

Ada. Judulnya Inteligensi Embun Pagi.

Dari seri-seri Supernova, semua berhubungan dengan imajinasi, riset dan mimpi. Manakah yang lebih penting; imajinasi atau riset?

Imajinasi, tentunya. Riset hanyalah faktor pendukung. Riset tanpa imajinasi seperti pedati tanpa kuda. Punya bobot tapi nggak tahu mau dibawa ke mana.

Mengenai perayaan menjelang Tahun Baru, mimpi dan resolusi kan selalu berkaitan. Menurut Anda, apakah membuat resolusi itu penting? Apakah Anda termasuk orang yang membuat resolusi setiap tahunnya? Mengapa?

Mimpi bagi saya lebih dekat ke angan-angan. Resolusi itu lebih dekat ke to-do-list, yang artinya mimpi yang sudah dibuat konkret dan ketahuan “step-by-step”-nya apa. Umur 20-an saya masih rajin bikin resolusi, mungkin karena mimpinya masih lebih abstrak, hehe. Sekarang sih bagi saya resolusi tahun baru itu penting-penting-enggak. Tanpa bikin resolusi pun sekarang saya sudah tahu agenda besar saya apa, misalnya untuk 2015 adalah menyelesaikan draf Supernova 6, ya sudah, itu saja.

Hal apa saja yang menginspirasi Anda untuk menciptakan karya-karya yang mampu “menghipnotis” pembaca karya maupun pendengar musik Anda?

Saya terinspirasi oleh banyak hal, dari apa yang saya amati dan rasakan melalui panca indera. Kalau masalah “menghipnotis” pembaca atau pendengar, saya rasa itu sudah ada campur tangan skill. Bukan semata-mata inspirasi. Jadi, bagaimana kita membuat cerita yang plotnya merekat atensi pembaca, itu ada skill-nya. Bagaimana kesesuaian melodi dan lirik, itu ada aspek yang namanya prosody. Dan tentu saja, ada faktor keberuntungan juga. Pada intinya, sebagai kreator kita nggak bisa punya kendali bagaimana efek karya kita ke para penikmatnya, yang kita bisa lakukan hanyalah mengerjakannya sebaik mungkin, memanfaatkan ide yang kita punya dan skill yang kita asah.

Bagaimana cara Anda mengatasi writer’s block?

Kalau writer’s block ringan saya biasanya mandi, gerak badan, ke spa. Pokoknya yang relaks dan menyenangkan. Kalau writer’s block berat biasanya itu lebih ke aspek teknis, harus ada elemen cerita yang dibongkar atau bahkan seluruh cerita harus digugurkan dan ditulis ulang.

Apa resolusi yang ingin Anda capai untuk tahun 2015?

Menyelesaikan draf Supernova 6 dan berhasil menuntaskan satu bulan program ayurvedic balancing hasil konsultasi saya dengan seorang praktisi Ayurveda. Lumayan berat soalnya. Sebulan tanpa makan cabai. Bagi saya, itu bersanding tipis dengan kemustahilan.

Untuk sekarang, apakah ada impian yang belum Anda capai?

Ada. Kebanyakan berkaitan dengan pekerjaan, sih. Rasanya lebih ke mengejar target daripada mimpi.

Menurut Anda, mana yang lebih efektif; fokus pada satu tujuan atau melakukan beberapa hal secara bersamaan?

Saya lebih senang fokus pada satu tujuan. Banyak orang menganggap saya multitalenta dan lantas dianggap bisa multitasking. Kenyataannya, saya hanya bisa fokus pada satu hal. Yang bisa saya lakukan hanyalah menyusun prioritas dan urutan mana yang saya kerjakan duluan, tapi mengerjakannya sih tetap satu-satu.

Apakah Anda percaya terhadap sesuatu di luar batas ilmu pengetahuan manusia? Menurut Anda, apakah segala sesuatu dapat dijelaskan dengan ilmu pengetahuan dan kalkulasi?

Tentu saja masih sangat banyak hal yang ada di luar batas ilmu pengetahuan kita. Otak kita saja masih baru terpakai kurang dari lima persen, 90% DNA kita masih belum bisa dipahami fungsinya. Saya percaya, perkembangan manusia itu bergerak paralel dari dalam ke luar dan sebaliknya. Apa yang kita sebut misteri adalah apa yang kita belum bisa pahami. Ketika potensi dan kapasitas kita melebar, maka misteri bisa saja berubah menjadi ilmu pasti.

Apakah Anda memiliki tips khusus untuk pembaca mengenai resolusi?

Sersan. Serius tapi santai.

Sebutkan lima kata yang dapat mendeskripsikan diri Anda.

Gila. Pemalas. Seru. Kampungan. Penasaran.

Last words? (quote)

Hidup adalah seni keseimbangan antara berkeluarga, berkarya, dan main game Plants vs Zombie.


FAST QUESTIONS (Mini questions)

FAMILY? My backbone.
BOOK? My lung.
MUSIC? My blood.
DREAM? My air.
LIFE? A treadmill.
LOVE? Valrhona chocolate.
TARGET? Tiring.
STYLE? Painless.
BALI? Sanctuary.

Tuesday, December 23, 2014

FAQ: Film Supernova KPBJ (Soraya Intercine, 2014)


Supernova Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh (KPBJ) adalah buku pertama Anda. Mengapa baru sekarang difilmkan? Sementara buku-buku Anda sesudahnya sudah difilmkan lebih dulu?

Kendali untuk mengatur buku mana yang duluan difilmkan sebetulnya bukan ada di tangan saya. Mungkin banyak orang yang menyangka bahwa penulis buku yang bukunya diadaptasi menjadi film lantas akan berada di posisi tertinggi dan bisa mengatur segala-galanya tentang bukunya yang difilmkan. Yang sesungguhnya terjadi tidak seperti itu. Mana buku yang difilmkan lebih dulu tergantung ada atau tidaknya produser yang tertarik untuk memfilmkan, dan karena produser bukan cuma satu melainkan banyak dan berbeda-beda, kita tidak bisa dengan gampangnya “janjian” dalam mengatur buku mana duluan yang difilmkan karena keputusan untuk membuat film bergantung dari banyak faktor dan kepentingan. Jadi, sebagai penulis, saya lebih berada di posisi menunggu. Saya tidak aktif menawar-nawarkan buku saya jadi film, karena memang bukan itu prioritas utama saya berkarya. Sebagai penulis, tugas saya adalah menulis buku. Kalau memang ada yang tertarik memfilmkan buku saya, itu saya anggap bonus, bukan tujuan. 

Bagaimana perasaan Anda dengan difilmkannya Supernova KPBJ?

Selalu ada rasa senang dan penasaran ketika karya saya akan diinterpretasikan oleh kreator lain dalam format berbeda. Ketika ada tawaran untuk memfilmkan buku saya, perasaan seperti itulah yang hadir. Supernova KPBJ juga sama. Tentu ada rasa penasaran ekstra karena kompleksitas Supernova berbeda dengan karya-karya saya yang lain. 

Banyak dari pembaca buku yang kemudian merasa kecewa ketika buku kesayangannya difilmkan dan ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi mereka, bagaimana Anda menyikapinya? 

Setelah berkali-kali buku saya difilmkan, kesimpulan saya satu: membuat film dari buku sebaiknya jangan ditujukan untuk memuaskan pembaca. Kalau tujuannya sekadar itu saja, jelas tidak mungkin dilakukan. Tugas utama pembuat film adalah bikin film bagus. Itu saja. Cerita bisa diadaptasi dari buku atau naskah orisinal, tidak masalah. Setiap karya, mau itu film atau buku, pasti akhirnya akan ada yang suka dan tidak. Jadi, bagi saya, sama-sama saja. 

Bisa diceritakan bagaimana prosesnya hingga Supernova KPBJ difilmkan? 

Produsernya, Sunil Soraya, sudah menghubungi saya sejak 6 tahun yang lalu. Tapi saat itu saya masih belum tertarik karena saya merasa Supernova adalah cerita yang belum selesai. Setelah sekian lama, perspektif saya berubah. Sama seperti bukunya, saya rasa Supernova bisa dinikmati setiap episodenya secara terpisah-pisah. Jadi, ketika tahun 2012 Sunil menghubungi saya lagi, mind set saya sudah berbeda. Dan saya melihat keseriusan niatnya dalam menggarap film Supernova. Setelah beberapa kali berbincang-bincang, akhirnya saya memutuskan untuk melepas hak adaptasinya. 

Apakah Anda ikut menentukan siapa sutradara dan para pemain KPBJ?

Saya tidak menentukan sutradara. Itu sepenuhnya keputusan produser. Untuk pemain, saya sebatas memberikan masukan di awal-awal proses casting, dan produser memberikan update tentang proses casting-nya, khususnya untuk peran-peran utama. Tapi, saya tidak berada di posisi penentu, hanya sebatas diinformasikan saja.   

Sejauh apa keterlibatan Anda dalam produksi Supernova KPBJ? Apa alasannya?

Saya tidak punya peran apa pun secara formal dalam produksi film Supernova, saya bukan produser maupun penulis skenarionya. Jadi, bisa dibilang saya hampir tidak terlibat sama sekali, dan itu sudah saya komunikasikan sejak jauh hari ke pihak produser. Produksi film Supernova berbarengan dengan periode saya menyelesaikan buku Supernova episode kelima, Gelombang. Saya harus memprioritaskan Gelombang karena tidak ada yang bisa menggantikan saya untuk menulis Gelombang. Tapi saya merasa peran saya dalam film Supernova tidak sekrusial itu, sudah ada orang-orang yang memang ahli di bidangnya. Produser mengajak saya berdiskusi di awal-awal praproduksi mengenai konsep penceritaan dan casting, dan saya sempat memberikan masukan untuk draf skenario. Begitu produksi dimulai, saya sudah tidak mengikuti. Jadi sebatas itu saja. 

Apakah Anda terlibat dalam penggarapan musik / soundtrack film Supernova KPBJ?

Tidak. 

Apakah Anda puas dengan hasil film Supernova KPBJ?

Sampai saat posting FAQ ini diunggah, saya belum menonton filmnya sama sekali, jadi saya tidak bisa menjawab soal ini (akan di-update). 

Belakangan, industri film Indonesia banyak sekali mengangkat kisah dari buku-buku bestseller. Apa pendapat pendapat Anda mengenai tren tersebut? 

Ketimbang naskah orisinal yang belum dikenal, cerita dari buku laris otomatis sudah punya pembaca dan massanya sendiri. Setidaknya film itu nanti sudah akan menarik perhatian para pembaca buku. Jadi, saya rasa itu memang pilihan yang dinilai strategis oleh para produser. Tentu, memfilmkan dari buku punya risiko tersendiri juga, karena penonton yang sudah baca bukunya biasanya datang untuk membandingkan, jadi agak lebih sulit untuk menikmati film apa adanya. 

Apakah pesan utama dari film Supernova KPBJ?

Saya hanya bisa bercerita dari sebatas buku, bahwa Supernova KPBJ bercerita tentang evolusi spiritual yang terjadi pada tokoh-tokohnya melalui beberapa konflik—antara lain cinta segitiga dan jejaring misterius yang dijalin tokoh cyber bernama Supernova—yang kemudian mengubah pandangan mereka tentang eksistensi dan jatidiri mereka. 

Apa harapan Anda atas film Supernova KPBJ?

Semoga filmnya berkualitas, ditonton banyak orang, dan semoga film Supernova KPBJ tidak sekadar menghibur tapi bisa memicu perenungan penonton akan hal-hal yang lebih besar. 

Apakah sekuel buku Supernova setelah KPBJ juga akan difilmkan?

Sejauh ini belum ada rencana. Kontrak saya dengan Soraya Intercine hanya sebatas Supernova KPBJ. 

Adakah proyek film lain yang diangkat dari buku Dee dalam waktu dekat? 

Filosofi Kopi saat ini sudah praproduksi dan rencananya akan mulai syuting awal tahun depan dengan perkiraan rilis April 2015. Filosofi Kopi digarap oleh rumah produksi Visinema, diproduseri dan disutradarai oleh Angga Sasongko, sementara skenario ditulis oleh Jenny Jusuf. Para pemain yang akan terlibat antara lain adalah Chicco Jerikho, Rio Dewanto, dan Julie Estelle.

FAQ: Seperti Kemarin - NOAH (Musica Studio, 2014)


Bagaimana awalnya bisa terlibat dalam proses pembuatan lagu Seperti Kemarin? 

Publisher saya dari Trinity Optima yang terlebih dulu terlibat pembicaraan dengan pihak Musica, bahwa ada calon single Noah yang belum berlirik dan Musica sedang mencari penulis lagu yang bisa membuatkan liriknya. Sampel lagu kemudian dikirimkan kepada saya untuk didengarkan. Saya juga sudah memberi tahu dari awal bahwa saya harus menemukan kecocokan dulu dengan lagunya, jadi kalau saya merasa tidak cocok atau tidak suka dengan lagunya saya tidak akan memaksakan diri untuk mengerjakan. Ketika saya dengarkan sampel itu berkali-kali, saya pun merasa cocok dan sanggup menulis liriknya. Barulah saya mengiyakan. 

Apa yang menjadi inspirasi lirik Seperti Kemarin? Apa tema yang diangkat? Kenapa memilih tema tersebut? 

Prinsip saya dalam menulis lirik adalah prosody, yakni kecocokan mood melodi dengan bunyi lirik. Begitu saya mendengar melodi dalam sampel Seperti Kemarin, saya merasa melodinya memiliki mood yang penuh harapan, pembebasan, uplifting, dan suasana lepas landas. Jadi, saya memilih lirik berdasarkan mood itu. Tema yang langsung terpikir adalah “back with vengeance”. Saya rasa tema itu bisa cocok dengan banyak orang karena kita sering berada dalam situasi terpuruk atau terjebak dan ketika kita berhasil bebas dari itu, ada semangat baru yang ingin kita nyatakan, dan saya rasa lagu ini bisa mewakili perasaan itu. 

Apakah lirik lagu Seperti Kemarin diangkat dari kisah nyata atau cerita pribadi seseorang? 

Tidak. Saya cuma merasakan spirit yang ada dalam melodi dan memilih kata dan kalimat yang sesuai dengan pergerakan nada. Saya cukup memutuskan tema apa yang ingin saya angkat dan cerita lagu bergulir dari situ. 

Adakah komunikasi / konsultasi dengan Ariel atau Noah selama pembuatan lirik? 

Sampel lagu yang dikirim ke saya sudah diberi judul Seperti Kemarin, dan di demonya Ariel cuma menyanyikan kata-kata “seperti kemarin” sementara sisanya “nanana…”. Saya hanya sempat menanyakan kepada Ariel via Whatsapp apakah kata-kata “seperti kemarin” ingin dipertahankan dalam lagu, dan menurut Ariel itu memang kalimat spontan yang tercipta saat lagu itu terbuat. Karena itulah saya pertahankan dan tetap saya jadikan judul. Bagi saya, spontanitas seperti itu menjadi semacam pertanda bahwa memang “nyawa” lagu berpusat di kalimat itu, jadi saya tinggal mengembangkan cerita besarnya saja.

Adakah kesulitan dalam proses membuat lirik Seperti Kemarin?

Yang paling menantang dalam membuat lirik adalah menentukan tema. Begitu temanya udah ketemu, cerita lagu biasanya mulai terbentuk, kata-kata pun mulai mengalir. Jadi, berhari-hari saya mendengar lagunya berulang-ulang untuk merasakan “spirit” melodinya dulu. Dan karena saya penyanyi, saya bisa merasakan susunan kata-kata yang enak dinyanyikan itu seperti apa. Prinsipnya, saya harus enak dulu menyanyikannya supaya penyanyinya nanti nyaman. Jadi, saya kirim juga sampel suara saya menyanyikan Seperti Kemarin ke Ariel biar dia kebayang bagaimana lirik tersebut disuarakan. 

Berapa lama proses pembuatan liriknya? 

Mungkin intensifnya sekitar seminggu, ya. Sampelnya sih dikirim ke saya lebih lama dari itu, dan saya dengarkan sekali-sekali. Begitu temanya sudah terbayang, baru saya dengarkan intensif dan menyusun kata per kata. 

Bagaimana perasaannya berkolaborasi dengan Noah? 

Senang dan excited. Saya selalu melihat Noah sebagai band yang progresif, berkualitas, dan pada saat yang sama mereka memiliki magnet kuat untuk menjaring begitu banyak fans. Bisa berkolaborasi dengan mereka adalah suatu kebanggaan tersendiri, juga menjadi pengalaman baru buat saya karena jarang-jarang saya berkolaborasi dengan pencipta lagu lain.

Apa harapan Dee untuk single Seperti Kemarin? 

Pada prinsipnya, menulis lirik dan menulis buku hakikatnya sama bagi saya, yakni story telling. Kita menyampaikan cerita. Dengan single Seperti Kemarin, saya menyampaikan cerita lewat musikalitas Noah. Bagi saya ini menjadi pengalaman artistik yang menarik. Dan, sebagaimana saya menulis buku, saya pun berharap banyak orang yang bisa terwakili dan merasakan keterhubungan dengan lagu ini.

Apakah ada rencana berkolaborasi lagi dengan Noah ke depannya? 

Menulis lagu selalu menjadi salah satu passion saya dalam berkesenian, selain menulis fiksi dan menyanyi. Pada prinsipnya, kalau memang saya merasa cocok, saya bisa berkolaborasi dengan siapa pun.

FAQ: Kumpulan Cerita MADRE (2011, Bentang Pustaka)


Madre ini buku yang keberapa?

Yang ketujuh, setelah Perahu Kertas (2009). 

Kenapa memilih kembali menghadirkan bentuk antologi? 

Karya-karya saya termasuk cukup beragam bentuknya, tidak hanya novel. Ada cerita pendek, novelet, puisi, dan lain-lain. Jadi, format antologi ini saya gunakan untuk menampung karya-karya non-novel, yang ketika sudah berjalan sekian tahun, volumenya semakin banyak dan bisa diterbitkan menjadi buku. Filosofi Kopi, misalnya, adalah kumpulan variasi karya saya selama satu dekade. Madre juga seperti itu bentuknya,  yakni kumpulan variasi karya saya selama lima tahun terakhir. 

Ada berapa cerita pendek dalam antologi Madre? 

13 cerita. 

Berapa lama menyelesaikan Madre? 

Karena Madre berbentuk antologi selama lima tahun terakhir, beberapa di antaranya sudah banyak yang selesai, meski semua naskah tetap harus disunting ulang. Tapi ada juga naskah baru yang memang dibuat tahun ini, yakni Madre itu sendiri. Selain itu ada juga beberapa naskah lama yang saya tulis ulang dan selesaikan, seperti "Menunggu Layang-layang" dan "Have You Ever?". 

Mengapa terpikir untuk meminta Sitok Srengenge sebagai editor untuk Madre? Ada pertimbangan khusus? 

Saya kenal Mas Sitok secara pribadi, dan mengagumi karya-karyanya. Sebetulnya waktu itu saya justru tanya ke Mas Sitok, editor mana yang ia rekomendasikan. Mas Sitok tahu-tahu malah menawarkan diri, padahal jadwal beliau sangat padat. Bagi saya, ini kesempatan yang sangat istimewa. Mas Sitok punya kepekaan bahasa yang baik, dan karena beliau juga bergerak di bidang penerbitan, ia terbiasa jeli menghadapi naskah. Jadi, kemampuan beliau sangat unik. 

Kisah Madre sendiri, mengapa tergerak membuat cerita tentang roti? 

Saya senang masak dan makan. Sejak dulu ingin sekali membuat cerita tentang makanan. Memilih roti sebenarnya tidak diniatkan sejak awal. Ide itu baru terpicu ketika saya ikut kursus membuat roti, dan instruktur saya bercerita tentang bedanya ragi instan dan ragi yang dikulturkan, yang biasanya disebut starter dough atau adonan biang. Saya langsung tertarik. Setelah saya riset, saya makin kagum. Bayangkan, adonan biang bisa bertahan ratusan tahun dan menjadi ibu bagi entah berapa banyak roti, seperti Boudin Bakery di San Fransisco. Waktu kecil, saya pun pernah berlangganan roti seperti itu. Sayangnya, toko roti tersebut tergusur zaman dan sekarang tutup. Bagi saya semua hal tadi memiliki elemen yang sangat kaya untuk diwujudkan dalam cerita. 

Kalau melihat secara keseluruhan, kisah paling favorit dari antologi Madre? 

Itu pertanyaan sulit, karena bagi saya semua cerita punya pemicu, kenangan, dan proses kreatif yang berbeda-beda. Kisah berjudul "Madre" tentunya istimewa karena saya memang sudah lama ingin membuat cerita tentang makanan, dan "Madre" memang menjadi cerita utama di buku. Saya juga punya kesan mendalam pada cerita "Semangkok Acar untuk Cinta dan Tuhan", bagi saya cerita itu sangat merepresentasikan apa yang saya rasakan dan alami secara spiritual. 

Apa yang membuat Madre berbeda dari karya-karya Dee sebelumnya? 

Sejauh ini, setiap buku saya memang beda-beda, ya. Madre, misalnya, walaupun mirip formatnya dengan Filosofi Kopi, tapi jika ditelaah isinya "citarasa"-nya berbeda. Menurut saya, yang "khas" dari Madre ini adalah tema-tema yang diangkat. Benang merahnya cukup jelas. Tema spiritualitas, re-birth, reinkarnasi, banyak muncul dalam antologi Madre. 

Sudah adakah rencana untuk buku berikutnya? 

Untuk 2-3 tahun ke depan, saya memang berencana untuk menulis marathon. Jadi proses kerja saya hampir tak terputus. Sesudah ini saya mau menyelesaikan serial Supernova, Sudah setahun ini, sejak mempersiapkan Madre, saya mengurangi aktivitas di luar untuk fokus menulis dulu. Target saya sesudah ini adalah buku keempat Supernova yakni "Partikel". 

Apakah buku Madre juga berencana dibuat film? 

Untuk produksi film tidak pernah menjadi target buat saya. Kalau ada yang tertarik, dan rasanya berjodoh, ya mungkin bisa jalan. Tapi kalau tidak pun tidak apa-apa. 

Apakah buku Madre ini juga punya karya musik pendamping, misalnya soundtrack? 

Tidak ada, karena memang konsepnya Madre ini murni buku fiksi saja. 

Apakah sekarang berencana lebih fokus ke menulis saja, ketimbang di bidang musik? 

Meski musik merupakan minat dan profesi saya, dalam menetapkan prioritas saya lebih melihat situasi. Saat ini saya sedang ingin lebih banyak di rumah, membesarkan anak-anak, terutama Atisha yang belum 2 tahun. Untuk itu, saat ini saya lebih condong ke menulis karena saya dimungkinkan lebih banyak di rumah ketimbang jika saya beraktivitas di musik. 

Seberapa jauh efektivitas media sosial yang Dewi gunakan untuk meluncurkan buku terbaru kali ini? 

Media sosial, khususnya Twitter, sekarang adalah sarana utama saya berkomunikasi dengan pembaca. Lewat media sosial, saya bisa kasih informasi, bikin kuis, berinteraksi, dari yang sifatnya pekerjaan sampai ngalor ngidul. Bahkan untuk Madre, melalui Twitter saya dan penerbit bisa membuat momen pre-sale yang cukup sukses. 

Bagaimana selama ini menyeimbangkan waktu dan tenaga antara proses menulis dengan merawat bayi, terutama waktu membuat Madre? 

Jujur saja, tidak terlalu mudah. Saya harus membiasakan diri kerja dengan interval pendek-pendek karena nggak bisa meninggalkan anak saya terlalu lama. Padahal kalau menulis itu saya terbiasa menghabiskan waktu berjam-jam sekali duduk. Tapi saat ini, sih, sudah mulai terbiasa dengan itu. Konsekuensinya ya saya nggak terima pekerjaan di luar rumah dulu. 

Baru-baru ini Supernova edisi pertama diterbitkan dalam bahasa Inggris.  Bagaimana ceritanya, apakah memang ditargetkan karya-karya lain juga akan dibuat versi Inggrisnya? 

Untuk penerjemahan juga tidak menjadi target saya, karena memang hal tersebut sifatnya situasional. Artinya, jika ada penerbit yang merasa sebuah naskah asing memiliki pangsa pasar dan bisa memasarkan, maka tawaran itu datang. Hal tersebut juga berkaitan dengan ketertarikan masyarakat internasional pada karya sastra Indonesia. Tentunya saya akan merasa sangat senang jika ada tawaran penerjemahan karya-karya saya, tapi bagi saya itu bukan hal yang jadi prioritas.

Tabloid Wanita Indonesia | Rubrik: Bincang | Desember, 2014 | by Dewi Syafrianis

 
Halo Dee, apa kabar? Lagi sibuk apa? 

Kabar baik. Saya sedang terlibat beberapa penjurian lomba menulis dan merampungkan jadwal promosi Gelombang untuk akhir 2014 ini. 

Oh ya, Dee kan sudah nonton filmnya ya (waktu preskon, Sabtu 6 Des 2014). Puas nggak dengan hasilnya? Sudah sesuai dengan ekspektasikah? 

Menurut saya, filmnya cukup membanggakan, digarap dengan sangat serius dan produksinya luar biasa. Angin segar bagi perfilman Indonesia karena cerita dan penggarapannya yang tidak biasa. Tentunya, bukan tanpa catatan. Apalagi bagi saya yang nulis, ya. Tapi secara keseluruhan menurut saya filmnya amat layak ditonton. 

Boleh cerita lagi dong tentang ide awal menulis Supernova ini. Kan, katanya bisa dibilang ini tentang spiritual Dee yang diangkat dalam bentuk fiksi ya. Seperti apa tuh... 

Supernova saya tulis tahun 2000. Kira-kira setahun sebelumnya saya mengalami peristiwa yang mungkin bisa disebut “epifani” atau pencerahan kecil, yang mengubah pandangan saya tentang hidup. Dan sejak itu saya tertarik menyelami spiritualitas dan bagaimana hubungannya dengan dunia sains. Saya menulis Supernova karena ingin berbagi apa yang saya pikirkan. Karena saya bisanya ya nulis fiksi. 

Kesibukan Dee selain nulis novel apa lagi nih? Masih menekuni dunia menyanyi nggak sih?  Maksudnya di luar mencipta lagu ya. Apakah masih terima tawaran off air? 

Sedang enggak. Lagi fokus menulis saja. 

Seperti apa sih keasyikan menulis untuk Dee? 

Bagi saya, menulis adalah saluran berekspresi, jadi bukan sekadar asyik tapi juga kebutuhan. 

Sudah ada belum sih buku yang Dee buat bersama suami (Reza Gunawan)? Belakangan kan ada juga tuh penulis berkolaborasi dalam membuat novel. 

Belum. 

Olahraga kesukaan Dee apa sih? Apa manfaat yang didapat?

Saya cenderung suka olahraga yang cardio, seperti Body Combat, Taebo. Belakangan lagi coba interval training juga, kombinasi lari dan jalan. 

Apakah olahraga tersebut juga bagian dari me time? Kalau bukan, me time-nya apa tuh? 

Kalau buat saya, olahraga memang buat jaga kesehatan dan metabolisme. “Me time” lebih ke hal-hal yang relaks seperti membaca, melamun, meditasi, jalan-jalan, atau spa. 

Seperti apa bentuk dukungan suami terhadap karya-karya Dee selama ini? 

Dia seperti produser saya. Bukan soal kreatifnya, tapi soal jadwal. Soalnya peran saya kan bukan cuma penulis, tapi ibu dan istri. Jadi, dia ikut bantu menyusun jadwal kerja saya, dari mulai ngitung deadline sampai jam menulis, supaya peran saya yang lain nggak keteteran. Dan sejauh ini, peran dia sangat besar. Madre, Partikel, dan Gelombang nggak akan beres tepat waktu kalau bukan karena bantuannya.

Jawa Pos | Film Supernova KPBJ | Desember, 2014 | by Shika Arimasen


Seberapa besar keterlibatan Dee dalam proses produksi film Supernova? Apa dilepas begitu aja? Kalau iya, kok bisa percaya banget mengingat novel Supernova termasuk "berat" utk difilmkan?

Bisa dibilang hampir tidak terlibat sama sekali. Waktu masih membuat konsep dan draft awal saya beberapa kali diajak diskusi oleh produser, tapi secara teknis saya tidak terlibat. Secara waktu memang tidak mengizinkan karena berbarengan dengan saya menulis Gelombang. Tentunya saya harus memprioritaskan Gelombang karena peran saya sebagai penulis Gelombang tidak ada yang bisa menggantikan. Namun, di film Supernova saya merasa memang itu adalah proyeknya produser dan sutradara, bukan saya. Kecuali kalau saya terlibat secara formal, entah itu sebagai produser atau penulis skenario, ya baru saya harus ikut proses produksi dan punya suara untuk menentukan ini-itu. Tapi posisi saya dari awal memang tidak bisa terlibat karena saya tidak bisa meluangkan waktu untuk itu. “Berat” atau “tidak” menurut saya itu relatif, sih. Pada prinsipnya film ya film. Beda format dengan buku. Buku yang “berat” belum tentu harus ikutan berat kalau jadi film. Yang penting sebagai film, ya, dia harus jadi film yang bagus dari tolok ukur film. Bukan buku. Bagi saya, prinsipnya itu saja. Tidak berarti film harus memvisualkan setiap halaman dan bagian dari buku. Film harus punya identitasnya sendiri, meski ceritanya diadaptasi dari buku.

Gimana menurut Dee pemeran-pemeran tokoh Supernova? Cocok nggak sih dengan visualisasi penulis saat mengembangkan karakternya dulu?

Secara fisik sih menurut saya cocok. Bagaimana mereka memerankannya saya belum bisa menilai karena belum nonton.

Sudah sesuai ekspektasikah garapan sutradara Rizal buat Supernova dari sudut pandang Dee?

Pada saat wawancara ini dilakukan, saya belum nonton jadi tidak bisa menilai. Yang jelas, saya yakin kalau Rizal gambarnya pasti bagus.

Sebenarnya pesan yang berusaha disampaikan novel Supernova: Ksatria, Putri & Bintang Jatuh apa sih? Apakah sama dengan pesan yang disampaikan versi filmnya?

Sekali lagi saya belum nonton film jadi saya tidak bisa mengetahui sama atau tidaknya. Yang jelas, novel Supernova itu adalah novel yang bercerita tentang evolusi spiritual yang terjadi pada karakter-karakternya. Pemahaman mereka akan hidup, cinta, dan jatidiri mereka akan berubah akibat konflik-konflik yang mereka alami sepanjang cerita. Jadi, setidaknya itu yang harus terlihat nanti di film.

Apakah ada rencana Supernova seri lain utk difilmkan juga?

Sejauh ini belum. Kontrak saya dengan Soraya hanya sebatas episode pertama (Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh) saja, dan belum ada pembicaraan apa-apa lagi mengenai episode-episode berikutnya.