Wednesday, December 17, 2014

Kick Andy Magazine | Opini: Art of Doing Nothing | Oktober, 2011 | by Nurul Farichah


Kali ini, 'Me Time' membahas tentang Art of Doing Nothing yaitu sebuah sesi berdiam diri sejenak tanpa memikirkan apa-apa yang ternyata merupakan sebuah kebutuhan untuk terhindar dari stres. Untuk itu kami ingin bertanya kepada Anda: pentingkah melakukan Art Of Doing Nothing ini? Dan pernahkah Anda melakukannya? Opini dapat ditulis sekitar 100 kata saja.

Menurut saya, masyarakat modern saat ini hidup dalam era "Always Doing Something". Always doing something is a positive thing. 
Saya pernah baca sebuah buku berjudul Time Shifting karya Stephan Rechtschaffen, dia menulis bawa waktu adalah persepsi mental. Umum sekali kita dengar "24 jam tidak cukup," atau "Waktu kok sekarang berjalan cepat sekali ya?" Sebetulnya itu adalah persepsi mental, yang merasa kegiatan kita terlalu banyak, sehingga 24 jam tidak lagi cukup. Kita jadi kehilangan kemampuan untuk menikmati waktu kosong. Pada saat liburan, orang yang biasa kerja malah tersiksa karena merasa harus terus berbuat sesuatu. 
Seperti mesin, jika ia dipacu terus-terusan tanpa pernah istirahat, pada satu titik ia akan jebol. Pada manusia, istirahat bukan berarti hanya tidur, tapi bagaimana pikiran dan mental kita ikut relaks.
Saya setuju dengan pembubuhan "art" pada "doing nothing", karena dalam  kehidupan modern, untuk bisa beradaptasi dengan "doing nothing" diperlukan seni, pemahaman, dan teknik. Bagi saya pribadi, "doing nothing" paling ideal dilakukan dalam bentuk meditasi mengamati. Bukan konsentrasi. Karena dalam konsentrasi kita kembali "berbuat sesuatu". 
Dalam meditasi mengamati, kita duduk diam mengamati apa yang terjadi. Tubuh kita, pikiran kita, celotehan batin, dsb, tanpa mengintervensi atau aktif melakukan sesuatu. Jika dilakukan rutin, batin dan pikiran kita menjadi terbiasa untuk punya "rem", tidak senantiasa reaktif.

Kick Andy Magazine | 60 Seconds | Mei 2011 | by Nurul Farichah


Jika diibaratkan, menulis dan menyanyi ibarat apa dalam hidup Anda?

Kanvas tempat saya berekspesi. 

Apa ritual khusus Anda ketika menulis?

Hening, meja, bangku, laptop. 

Mana yang menurut Anda lebih membanggakan bagi diri Anda, disebut sebagai penulis atau musisi?

Sama bangganya. 

Hal paling aneh yang pernah dilakukan dalam proses pencarian inspirasi atau menghasilkan karya?

Untuk inspirasi, bagi saya inspirasi tidak bisa dicari tapi datang saat kita siap dan reseptif. Untuk menyelesaikan buku, saya pernah sewa tempat kos 2 bulan untuk nulis, pengalaman itu saya jurnalkan di: www.dee-55days.blogspot.com

Apa mimpi Anda yang belum terwujud? (selain mengunjungi suatu tempat)

Kursus merangkai bunga.

Jika digambarkan dalam 3 kata, seperti apakah sosok Dee Lestari di mata Anda?

Aneh, gila, lucu. 

Punya penulis yang menjadi panutan? Siapa? Mengapa?

Enggak ada.

Anda ingin dikenal sebagai penulis yang seperti apa?

Yang spiritualis. 

Pernah membandingkan diri Anda dengan penulis lain? Jika ya, siapa?

Dengan Sapardi Djoko Damono. Saya merasa tidak akan pernah bisa membuat puisi seindah beliau. 

Buku terakhir yang dibaca?

"2012: Return of the Quetzalcoatl" - Daniel Pinchbeck. 

Album musik terakhir yang didengarkan?

Musikal Laskar Pelangi. 

Kebiasaan seorang Dee ketika bangun tidur?

Minum air putih, nyiapin sarapan anak dan suami, cek kebun. 

Apa yang biasanya ada dalam benak Dee ketika akan berangkat tidur?

Nggak jelas. Sangat acak. 

Do you believe in soulmate?

I believe in soulmate(s). Plural. Dan relasinya nggak hanya asmara, bisa pertemanan, persaudaraan, dst. 

Jika tidak menjadi penulis atau penyanyi, kira-kira Anda menjadi apa sekarang?

Jualan kue.

Tempat paling ingin Anda kunjungi di alam semesta? 

Bukan “tempat”. Tapi naik dimensi. 

Jika Anda jadi presiden, kebijakan apa yang akan anda buat?

Menindak tegas ormas perusuh dan menghukum koruptor seberat-beratnya.

Kawanku | Pembaca Bertanya | Oktober, 2009 | by Ruth Davina


Mala/16 tahun/XI/SMA Unggul Setia Bhakti 
Mbak Dee, gimana sih caranya ngembaliin mood buat nulis saat kita bosen?

Kalau saya pribadi biasanya melakukan kegiatan lain di luar dari menulis. Menjalankan hobi yang lain, misalnya. Membaca buku yang kita suka juga biasanya membantu.

Fandita/17/XII/SMAN 1 Solo 
Mbak, gimana sih caranya biar novel kita diterbitin?

Tidak ada yang bisa menjamin buku kita bakal diterbitkan ataupun laku. Jadi, nggak ada rumus yang baku untuk itu. Yang jelas, setelah naskah kita jadi, kita sebaiknya mencari penerbit yang memang tepat. Artinya, penerbit yang memang menerbitkan genre buku yang sesuai dengan karya kita. Siapkan naskah dengan kualitas baik dan rapi. Kalau terlalu mentah, orang juga pasti malas bacanya, apalagi penerbit kan bisa menerima puluhan naskah setiap harinya.

Rayi/17/Semester 1 Universitas Kristen Satya Wacana 
Mbak, gimana cara bikin novel yang ‘hidup’ ceritanya? Thanks, ya.

Patokan saya: kalau saya pribadi bisa excited, bisa larut, bisa hanyut, dan bisa geregetan sendiri saat menuliskannya.

Clara/16/XII/SMAN 3 Gorontalo 
Kak, kadang ada merasa aku punya seribu ide buat nulis. Tapi pas ditulis, tiba-tiba ide itu hilang begitu saja. Apakah Kakak pernah merasakan hal yang sama? Terus gimana dong biar ide-ide yang bermunculan itu bisa berhasil aku jadiin karya?

Iya, pernah. Selain menangkap ide, kita juga perlu berlatih mewujudkan ide. Tapi, kita juga perlu mengerti bahwa nggak semua ide bakal jadi sesuatu. Jadi, kita harus belajar berpasrah juga. Coba aja ke mana-mana bawa notepad, begitu ada ide langsung tulis. Jadi nggak hilang. Nanti kalau kamu mau nulis, kamu bisa lihat catatan itu dan siapa tahu aja ada ide yang terpakai, walaupun nggak sebanyak yang kamu catat.

Cindy/14/IX/SMPN 1 Kediri 
Mbak Dee, kasih tips dong gimana cara bikin opening sebuah cerita. Soalnya kadang aku bingung gimana mengawali suatu cerita padahal inti ceritanya sudah ketemu…

Opening sebuah cerita haruslah menggugah dan nggak klise. Selalu mencoba dari perspektif yang nggak biasa. Banyak-banyak baca referensi cerita/buku yang kamu sukai dan pelajari gaya penulisnya, siapa tahu kamu bisa dapat inspirasi dari sana.

Wiwid/14/IX SMP 3 Pontianak 
Pernah enggak Mbak Dee dapat ide baru untuk nulis cerita lain di tengah-tengah cerita yang sedang Mbak tulis? Kalau sudah begitu Mbak Dee bakal bikin cerita baru dan ninggalin yang lama, atau gimana, Mbak?

Sering. Dan itu hal yang biasa. Dalam menulis itu kita harus siap dengan segala perubahan yang terjadi, karena bisa saja proses kreatifnya tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita rencanakan. Namun, di sanalah justru magisnya yang namanya proses kreatif.

Iris/17/XII SMANSA Semarang 
Kak, bagi tips dong. Gimana caranya menuangkan ide yang sudah muter-muter di kepala, tapi enggak bisa kita tuangkan menjadi kata-kata yang bagus? Terus apa yang harus kita lakukan biar ide itu enggak hilang begitu saja. Makasih, ya.

Dicatat aja sebagai ide di sebuah buku khusus. Namakan saja “Buku Kumpulan Ide”. Jadi, walaupun belum tentu terpakai, minimal ide yang udah mutar-mutar di kepala kamu itu nggak hilang.

Lusiana/17/XII/SMAN 1 Jember 
Mbak nulis novel mulai kelas berapa? Dulu pas awal awal mau nerbitin juga susah diterima penerbit, nggak?

Saya nulis cerita secara serius itu pertama kali waktu kelas 5 SD, tapi cuma buat disimpan sendiri. Baru mulai bikin cerpen/novel waktu SMA. Awal saya menulis buku, saya menerbitkannya sendiri. Jadi, waktu itu nggak menemukan tantangan / kondisi di mana saya harus minta tolong ke penerbit untuk mempublikasi karya saya.

Indri/18/Semester 1 Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Halo Kak Dewi, saya suka banget buku kakak yang berjudul Rectoverso. Saya terkesan, bagaimana kakak bisa membuat sebuh cerita yang alurnya berkaitan dengan sebuah lagu? Terus, karakter di Rectoverso itu kan unik, dari mana kakak bisa dapet inspirasi untuk menciptakan karakter-karakter tersebut?

Khusus untuk Rectoverso, saya memulainya dari lirik dulu baru kemudian cerita dalam lagunya ‘dilebarkan’ menjadi cerpen. Ibaratnya, lensa kita diperluas sehingga pemandangan yang kita lihat lebih banyak lagi. Apa yang ada di lirik menjadi lebih punya banyak sisi. Karakter dalam Rectoverso, sih, saya ciptakan sesuai dengan kebutuhan cerita saja.

Nurul/17/XII/SMAN 4 Banda Aceh 
Kak, ada rencana mau ngeluarin novel lagi, nggak?

Yang baru keluar judulnya Perahu Kertas.

Grace/16/XII/Santa Maria 3 Cimahi 
Apakah setiap kali Kakak punya inspirasi langsung buru-buru menuliskannya? Maksudnya, langsung dirangkai jadi sebuah ceritakah? Atau ditampung dulu sebanyak-banyaknya? Kalau iya, apakah itu berarti selalu ada pensil atau laptop di dalam tas Kakak?

Biasanya ditampung dulu. Tapi tergantung ‘kekuatan’ idenya juga. Kadang-kadang ada ide yang saking kuatnya, saya nggak bisa menunda lagi, rasanya kepingin langsung dituliskan. Jadi nggak ada kondisi general. Ke mana-mana saya memang selalu bawa laptop, tapi kalau ada ide dan kebetulan saya nggak lagi nggak pakai laptop, biasanya dituliskan manual aja pakai kertas dan pulpen.

Queen/ 16/2 IPA/SMU Strada St. Thomas Aquino, Tangerang 
Kok Kakak bisa tertarik bikin novel science fiction? Kan jarang, tuh…

Hmm. Dalam science fiction ada manipulasi realitas berdasarkan sains, dalam Supernova (KPBJ) hal itu nggak ada. Realitasnya biasa-biasa saja, tapi ada karakter yang diceritakan menyukai sains dan banyak mengungkapkan sains dalam porsinya bercerita. Itu saja.

Irma/17/XII/SMKN 2 Balikpapan 
Kalau Kak Dee boleh minta apa pun, apa yang bakal Kak Dee kasih buat orang yang paling Kakak sayang?

Saya akan memberi waktu dan perhatian saya, sepenuh-penuhnya.

Dinta/13/SMPN 1 Jogja 
Kakak dapat inspirasi dari mana, sih? Kok bukunya selalu bagus-bagus? 

Dari mengamati kehidupan di sekitar saya aja, dan menuliskan apa yang saya suka. Pada prinsipnya, tulisan yang paling baik adalah tulisan yang temanya memang paling dekat dengan hati dan minat kita.

Jesslyn/17/kelas XII SMAN Ipeka Jakarta 
Kak, di buku Rectoverso, foto-fotonya tuh hasil foto Kakak sendiri, ya? Keren banget, lho!

Bukan. Untuk semua gambar, foto, dan urusan grafis lainnya dalam Rectoverso, dibuat oleh tim khusus bernama Kebun Angan. Keterangan tentang mereka ada di buku Rectoverso dan di web.

Kartini | Royati | Agustus, 2009


Kalau bisa dijelaskan bagaimana sistem pembagian royalti itu sendiri?

Saya akan menjelaskan dari sudut pandang penulis ya. Karena kalau penyanyi/penulis lagu itu lain lagi aturannya. Lebih ribet, karena ada macam-macam hak yang diatur dalam satu produk. Untuk penulis biasanya mendapatkan 10%-15% dari harga eceran buku di toko. Besaran royalti ini tergantung negosiasi penulis dengan penerbit. Pelaporan dan penyetoran royalti dari penerbit biasanya dilakukan setiap 6 bulan sekali, dan tentunya hal ini juga bisa dinegosiasikan (bisa minta per tiga bulan, dsb). 

Siapa saja yang terlibat dan mendapatkan pembagian royalti?

Yang mendapatkan royalti tentunya adalah kreator sebuah karya seni tertentu. Karena kalau pihak penerbit, misalnya, itu namanya adalah profit. Sementara untuk toko, itu namanya jadi rabat atau diskon toko. Untuk distributor, namanya jadi margin distributor. Sebetulnya pada intinya sih sama, “kue keuntungan” itu dibagi-bagi ke berbagai pihak. Namun di pihak kreator, dalam hal ini penulis, istilahnya adalah royalti. Secara prinsip, yang membedakan royalti adalah keberlangsungannya yang terus menerus. Selama karya tsb tetap diproduksi, meski penerbitnya ganti, distributornya ganti, atau toko-toko yang jualannya beda-beda, royalti bagi penulis tetap harus berjalan. Royalti ini juga bisa diwariskan, misalnya kalau penulis/kreatornya wafat. 

Apakah pernah mengalami masalah mengenai royalti yang tidak adil?

Besaran royalti yang nggak adil sih nggak pernah, karena secara umum sudah ada standar untuk menentukan besaran royalti ini. Tinggal sekarang bargaining position kita aja seperti apa, sehingga bisa menaikkan royalti semaksimal mungkin. Yang perlu keterbukaan dan kewaspadaan justru di masalah pelaporan dan akurasi dari laporan tersebut. Kalau bisa selalu sertakan pasal di mana penulis/kreator punya hak untuk mengaudit laporan royalti yang diberikan padanya melalui auditor publik.

Menurut Anda apakah hukum di negara kita yang mengatur soal royalti sudah cukup adil untuk semua pihak?

Saya tidak tahu pasti mengenai perihal hukumnya secara general. Yang jelas, yang menentukan adalah kontrak yang kuat dan seimbang antara pihak-pihak yang bekerjasama (penyanyi dg perusahaan rekaman, atau penulis dengan penerbit). Karena kuat/lemahnya kontraklah yang menentukan apakah sebuah masalah hukum antar pihak dapat diselesaikan dengan adil dan seimbang. Kalau dari awal kontraknya sudah melemahkan salah satu pihak, ya, begitu ada masalah otomatis sudah kelihatan mana pihak yang lebih dirugikan. Sistem hukum negara, kan, tinggal memproses saja. Jadi, salah satu aspek penting adalah membekali diri dengan kontrak yang kuat, jika perlu menyewa pengacara untuk menyusun surat perjanjian. 

Menurut Anda, dari kasus royalti yang pernah ada, pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab?

Setiap kesepakatan royalti pastinya melalui kontrak, jadi kekuatan kontraklah yang menentukan. Semuanya otomatis bertanggung jawab. Kondite dan komitmen untuk menjalankan kerja sama yang jujur dan adil juga penting. Kadang-kadang ada juga yang tanpa kontrak tapi mulus-mulus saja karena semua pihak secara konsisten mau menjalankan kerja sama yang bersih. Tapi ada juga yang meski sudah berkontrak, tapi konditenya memang nggak baik, ya, bisa-bisa saja terjadi pelanggaran hak/kewajiban.

Menurut Anda, apa yang belum terakomodir dari pembagian royalti saat ini?

Untuk beberapa industri yang saya tahu, kontrol para kreator/artis/penulis bisa jadi sangat lemah. Mereka nggak punya akses sama sekali untuk mengecek laporan penjualan akurat atau enggak, jujur atau enggak, pokoknya tahu terima laporan aja. Untuk RBT yang saya tahu masih seperti itu, pokoknya kita terima laporan dari content provider, dan content provider terima laporan dari perusahaan telekomunikasinya. Tapi, apakah laporan tersebut bisa diaudit, atau sekadar dicek langsung oleh pihak kreator? Saya belum pernah dengar.
Untuk industri buku, setidaknya sekarang-sekarang ini, saya sudah bisa memasukkan pasal tersebut dalam kontrak kerja sama. 
 

Portal Berita KabarIndo | Industri Kreatif | Januari, 2010 | by Arul Arista


Apa ada korelasi imajinasi merangkai kata dari untaian kalimat prosa dengan kreativitas?

Menurut saya, imajinasi adalah sumbernya, kreativitas adalah mesinnya, jadi keduanya berkorelasi. 

Memulai kalimat inspiring dari sisi apa?

Dari pesan dasarnya dulu, apa yang sesungguhnya ingin kita sampaikan.

Apakah fakta atau cerita-cerita orang menarik dijadikan karya sastra?

Sebuah karya memang selalu merupakan gabungan dari imajinasi dan fakta, yang bisa berupa cerita/pengalaman orang, atau pun cerita/pengalaman kita sendiri. Setidaknya itu yang selama ini saya lakukan.

Supernova bisa didaulat sebagai produk industri kreatif?

Tentu saja. 

Hal apa saja yang menarik dari industri kreatif?

Karena pekerjaan saya memang ada di bidang kreatif, bagi saya segalanya tentang industri kreatif jadi menarik.

Indonesia 2010 sedang meniti era Komputasi Sosial. Jejaring Sosial seperti FB dan Twitter ibarat jamur di musim hujan, ada pendapat? 

Sudah saatnya. Sebagai salah satu negara berpenduduk terbanyak di dunia, Indonesia punya potensi besar untuk memiliki jejaring sosial yang signifikan.

Apa asyiknya dengan aktivitas update status dan Twitter?

Bisa berkomunikasi langsung dengan pembaca/penggemar karya, bisa brainstorming secara virtual dengan orang-orang yang kompeten, dan bisa terhibur dengan interaksi yang terjadi.
 
Cinta menurut Dee, apa? 

Cinta, bagi saya, pada dasarnya adalah energi. Energi yang menggerakkan segalanya.
 

The Jakarta Globe | My Jakarta | Juli, 2010 | by Candra Malik


Anda seorang penyanyi sekaligus penulis yang produktif. Mana yang lebih awal Anda jalani?

Musik duluan. Saya mengawali karier musik dari umur 17 tahun (thn 1993). Awalnya menjadi backing vokal untuk Iwa K, P Project, Harvey Malaiholo, Java Jive, Chrisye, dan sebagainya. 

Apakah Anda mendapatkan dua kemahiran itu dari bakat yang turun di keluarga? Siapakah yang juga penyanyi dan/atau penulis di antara mereka?

Keluarga saya memang pencinta seni. Kakak saya, Imel, adalah seorang pianis/vokalis jazz profesional yang juga udah bikin album. Adik saya, Arina, adalah vokalis dari band Mocca. Kakak saya, Key, adalah seorang sutradara dan penulis skenario. Kalau yang menulis buku memang hanya saya. Kedua orang tua saya memang selalu mendorong kami untuk belajar musik sejak kecil. Ayah saya adalah seorang pencerita yang sangat baik, walaupun nggak nulis buku. Beliau juga senang bernyanyi dan bermusik meski otodidak. 

Saat ini, mana yang dorongannya lebih kuat dalam diri Anda: menyanyi atau menulis? Mengapa?

Dalam pengalaman saya, dorongan itu datang bergantian. Cuma sejak menulis Supernova tahun 2001, saya memang lebih intens menulis. Ada satu hal dalam dunia penulisan yang membuat saya lebih nyaman, yakni keleluasaan untuk rileks dan jadi diri sendiri. Menyanyi punya sisi glamor, sisi ‘nampil’, yang ternyata saya nggak selalu nyaman melakukannya. Saya senang rekaman dan membuat musik, tapi untuk performing saya nggak merasa punya semangat yang tinggi untuk itu. Selain itu, sejauh ini ide yang lebih sering muncul belakangan adalah ide menulis ketimbang musik. 

Anda memilih label indie untuk menerbitkan buku-buku, bahkan mendistribusikan sendiri buku-buku itu, dan terbilang sukses. Sudah berapa buku? Bagaimana ceritanya?

Sebetulnya saya cukup banyak bekerja sama dengan para penerbit selama ini, salah satunya yang masih bertahan hingga sekarang adalah GagasMedia dan Bentang Pustaka. Hanya seri Supernova (1-3) yang masih saya jalankan sendiri bersama Truedee Books. Awalnya sih bisa dibilang ‘kecelakaan’. Waktu itu saya punya manuskrip Supernova, dan saya nggak cukup pede untuk bawa ke penerbit. Teman saya ada yang mencoba, lalu katanya naskah tersebut harus antre dulu beberapa bulan, sementara target saya adalah menerbitkan Supernova sebagai hadiah ulang tahun bagi diri sendiri (Januari 2001). Ya sudah, akhirnya saya terbitkan sendiri. Dulu memang nggak kebayang ternyata animonya sebesar itu. 

Apa buku Anda yang, menurut Anda sendiri, paling spesial dan menunjukkan pencapaian tertentu? Siapa penulis atau tokoh yang memengaruhi Anda?

Agak susah memilih, karena setiap buku punya karakter tersendiri dan juga prestasi tersendiri. Secara historis sih ya tentu buku pertama, karena saya belajar banyak dari sana, baik sebagai penulis maupun sebagai penerbit. Saya mengagumi Ayu Utami dan Sapardi Djoko Damono. Buku Ayu, Saman, menjadi salah satu pendorong saya untuk berani menulis buku. Sementara dari Sapardi, saya banyak belajar tentang kreativitas, membuat metafora, dsb.

Sedangkan untuk album, sejak masih bersama grup RSD sampai akhirnya solo karier, mengapa Anda tak memilih jalur indie pula? 

Untuk RSD saya memang sejak awal sudah dibina oleh perusahaan rekaman yang mengontrak kami. Bahkan perusahaan rekaman tersebutlah (Warna Musik – Adjie Soetama/Adi Adrian) yang membentuk RSD pertama kali. Jadi memang jalurnya sudah seperti itu. Waktu solo karier, justru saya indie. Album solo saya pertama Out of Shell diproduksi sendiri, hanya distribusinya aja saya kerja sama dengan perusahaan distributor, karena saya nggak punya SDM untuk menjalankannya sendiri. Album kedua saya, Rectoverso, kebetulan bergabung dengan buku, jadi kasusnya agak lain. Tapi itu pun saya terlibat sebagai produser dan pemodal.

Anda berdarah Batak, lahir di Bandung, tinggal di Serpong, cari duit di Jakarta (Twitter said so ;p). Bagaimana Anda menjalani ini? Apa kesibukan Anda di Jakarta?

Hahaha... inget aja lagi. Bertahun-tahun saya memang bertahan di Bandung, walaupun teman-teman yang di industri sama sudah banyak yang pindah ke Jakarta karena memang lebih memudahkan. Tapi setelah anak saya, Keenan, masuk TK, saya mulai berpikir ulang. Soalnya, karena harus pulang-pergi terus, saya jadi sering ninggalin Keenan di Bandung, tapi kalau dia dibawa, dia sering bolos sekolah. Akhirnya saya “menyerah”, pindah ke Jakarta juga. Dan setelah menikah dengan Reza, yang orang Jakarta, ya semakin kuatlah alasan untuk tinggal di sini. Saya memilih tinggal di daerah suburb karena saya memang senang daerah yang masih hijau, tenang, relatif sepi. Di Bandung pun saya tinggalnya di daerah pegunungan. Tinggal di tengah kota nggak begitu cocok buat saya. Reza juga kebetulan prinsipnya sama. Hingga akhirnya kami memilih tinggal di BSD.

Ketika terjebak dalam kemacetan, apa hal yang paling produktif yang bisa Anda lakukan?

Meditasi.

Sebagai seorang Buddha, bagaimana Anda memahami meditasi dalam konteks kehidupan saat ini yang penuh gegap-gempita dan persaingan?

Sebetulnya, terlepas dari Buddhis atau bukan, untuk kehidupan zaman sekarang, saya ingin sekali menganjurkan ke semua orang untuk bermeditasi. Stimulasi eksternal di kehidupan modern ini begitu intens. Orang dipacu untuk terus cepat, instan, sibuk, dsb, makanya tingkat stres tinggi, penyakit degeneratif juga merajalela. Karena orang nggak lagi dibiasakan untuk ngerem dan berhenti. Meditasi adalah penyeimbang yang bisa bikin manusia modern tetap “waras”. Syukur-syukur bisa sampai pencerahan, haha! Tapi minimal untuk bisa berfungsi secara optimal, baik secara mental, emosional, dan fisik, meditasi sangat diperlukan. Bagi saya, meditasi bukan lagi sekadar unsur agama tertentu saja, tapi harusnya sudah menjadi bagian keseharian, sama halnya seperti kita berolahraga, atau makan. Kebanyakan orang sudah mulai melek dengan pola hidup sehat, makan sehat, dsb, tapi masih sedikit sekali orang yang memasukkan meditasi ke dalam kebutuhan keseharian. Bahkan di kalangan Buddhis sekalipun, praktisi meditasi masih menjadi minoritas.

Di Jakarta dan sekitarnya, apakah Anda mengalami kesulitan untuk berbelanja kebutuhan vegetarian? Anda memasak sendiri? Dari mana memperkaya menu-menu dan mendapat resep-resepnya?

Karena sekarang ini saya lagi hobi masak, otomatis jadi lebih sering bikin makanan sendiri. Nggak sulit sih, walaupun nggak banyak toko yang jual bahan vegetarian, tapi karena sedikit itulah networkingnya justru malah bagus. Ada direktori khusus yang bisa dicari di internet untuk petunjuk restoran/toko bahan vegetarian. Di BSD aja ada beberapa. Kalo menu dan resep saya modifikasi sendiri dari resep-resep nonvegetarian. Dan sebetulnya makanan Indonesia asli banyak yang vegetarian friendly. Apalagi di sini tahu tempenya murah dan enak.

Bagaimana Anda pertama kali meyakinkan orang lain bahwa vegetarian adalah pilihan hidup yang sehat dan mengasyikkan?

Kalau saya nggak pernah meyakinkan siapa pun. Apa pun yang saya jalankan dan rasakan manfaatnya, saya share sebisa saya. Entah itu lewat artikel, twit, atau blog. Kalau ada yang tertarik ya syukur, kalau enggak ya nggak apa-apa.

Jika Anda diminta memilih, lebih suka Dee yang ketika remaja atau Dee yang sekarang? Mengapa? Apa pula yang Anda sesali dari masa lalu?

Saya senang Dewi yang hari ini. Karena Dewi yang dulu sudah nggak ada. Setiap orang berubah hari bahkan setiap saat. Kalau saya bertahan atau terikat pada Dewi yang dulu, nggak akan bisa menikmati hari ini. Apa yang terjadi di masa lalu membentuk saya apa adanya hari ini. Hargai sejarah, jalani hari ini, dan siapkan masa depan, secara proporsional (kebanyakan planning juga stres, hehe). Itu prinsip saya.

Anda sering mondar-mandir Jakarta-Bandung. Bagaimana respon Anda ketika KA Parahyangan yang legendaris itu akhirnya distop operasionalnya? Mana yang paling Anda suka: naik kereta itu, travel, bis, atau berkendara sendiri Jakarta-Bandung? 

Perkembangan zaman kan nggak bisa dibendung. Sejak ada Cipularang, otomatis orang akan lebih menemukan kenyamanan dan keleluasaan untuk bepergian Jakarta-Bandung. Jadi yah wajar-wajar aja kalau terjadi perubahan. Tentunya sebagai bagian dari memori, saya trenyuh juga dengan tiadanya lagi KA Parahyangan. Tapi sebagai bagian dari perubahan itu sendiri, ya diterima saja. Saya lebih suka berkendara sendiri (pakai sopir), karena lebih fleksibel. Nomor duanya, saya memilih travel. 

Membaca peta Jakarta dan sekitarnya, menurut Anda, bagian mana di ibukota dan kota-kota satelitnya yang masih punya harapan ditata ulang agar semenarik dan sehijau Bandung?

Bukan karena saya tinggal di BSD ya, tapi menurut saya BSD punya peluang ke arah sana (meski Bandung jangan lagi dijadikan barometer karena sudah tidak semenarik dan sehijau dulu). BSD menurut saya planning kotanya cukup matang, penghijauannya cukup bagus, tinggal tunggu pohonnya besar-besar. Yang masih perlu digarap adalah konsep green living. Lebih bagus lagi kalau di BSD ada semacam sentra pengolahan untuk sampah organik, pusat daur ulang, dan juga upaya-upaya imbauan dan insentif untuk listrik tenaga solar, penampungan air hujan, dsb.

Jawa Pos | Rubrik: Relationship | Oktober, 2011 | by Nora Sampurna


Menurut Dee, hal apa yang bisa membuat seseorang tetap dekat dengan mantan suami/istri? Apakah faktor anak, keikhlasan hati, atau hal lain?

Kalau menurut saya, itu sangat tergantung dengan bagaimana situasi saat mereka berpisah. Jika dari momen berpisah sudah bisa baik-baik, semua beban emosi yang besar sudah tuntas dikomunikasikan, maka relatif mudah untuk menjaga hubungan yang baik ke depannya. Singkatnya, mereka harus bertransformasi menjadi sahabat atau minimal teman, sebelum berpisah.

Bagaimana Dee membina hubungan baik dengan Marcell pasca berpisah?

Untungnya dari sebelum kami resmi berpisah secara pengadilan, kami sudah duluan menjadi teman baik. Sisanya ya tinggal komunikasi saja. Apalagi ada Keenan, yang menjadi jembatan hubungan antara dua keluarga kami sekarang. Jadi bagaimana pun akan selalu ada urusan yang perlu kami tangani berdua sebagai orang tua biologis Keenan.

Dalam hal ini, apa yang mendasari Dee dan Marcell terus membangun kedekatan? Apakah alasan utamanya untuk kebahagiaan Keenan?

Keenan tentu menjadi alasan penting, tapi di luar dari itu, saya sendiri tidak melihat keuntungan dari bersikap musuhan dengan mantan pasangan. Ada yang bilang, kalau sudah berpisah lebih baik nggak usah saling kenal lagi, menurut saya pandangan itu lumrah kalau perpisahannya tidak baik-baik. Tapi kalau secara emosi oke-oke saja, kenapa juga tidak diteruskan dalam bentuk pertemanan? Dan tidak perlu juga ada usaha khusus untuk sengaja maintain, alamiah saja.

Saya pernah membaca berita, Dee juga cukup akrab dengan Rima Melati Adams, istri Marcell. Bisa diceritakan mungkin, sedekat apa? Saling bercerita tentang anak mungkin atau hal-hal tentang perempuan seperti shopping, dll?

Untuk acara keluarga, seperti ulang tahun Keenan, atau ulang tahun Atisha, kami pasti mengundang. Dan kalau memang pas bisa, mereka pasti datang. Jadi Rima-Marcell kenal baik juga dengan mertua saya (orang tua Reza). Karena Rima juga sama-sama hobi masak dan berkebun, kadang-kadang dia suka ngasih bumbu atau bibit tanaman, kalau memang lagi ada yang saya cari dan dia punya.

Boleh diceritakan pula tentang Keenan, seberapa sering frekuensi bertemu dengan Marcell?

Tiap weekend, kalau Keenan sedang tidak ada kegiatan khusus, dan Marcell juga sedang tidak terlalu sibuk, Keenan pasti menginap di rumah Marcell-Rima. Kalau liburan, sering juga Keenan dibawa ke Singapura, mengunjungi keluarga Rima. Keenan cukup dekat dengan adik tirinya, Edga (anak Rima). Kalau Marcell lagi kangen banget, kadang-kadang di weekdays pun Keenan menginap beberapa hari di rumah Marcell.

Pernah saling mengunjungi keluarga masing-masing? Misal, keluarga Dee-Reza Gunawan mengundang keluarga Marcell-Rima, atau sebaliknya? Atau mungkin pergi bersama?

Tentu pernah. Kalau ada ultah dan dirayakan, biasanya kami saling mengundang. Pergi bersama juga pernah, walaupun belakangan agak jarang karena kesibukan masing-masing. Minimal 'say hi' lewat telepon, SMS, atau Twitter.

Saran Dee untuk perempuan yang memiliki pengalaman serupa dengan Dee, yang mungkin merasa canggung atau masih enggan membina hubungan baik dengan mantan pasangan, bagaimana untuk memulainya?

Hal seperti itu memang tidak bisa dipaksakan. Kalau masih ada unek-unek besar yang nyangkut di salah satu pihak, otomatis nggak bisa. Kalaupun bisa, pasti hanya basa-basi saja. Jadi menurut saya, peer besarnya adalah di membersihkan beban batin yang masih tersisa dari hubungan yang dahulu. Kalau itu sudah bersih, sama sekali bukan halangan untuk punya hubungan baik. Dan itu harus terjadi di kedua pihak, nggak bisa cuma salah satu.