Tuesday, December 16, 2014

Femina | Retret Spiritual | Agustus, 2010 | by Eka Januwati


Sudah berapa kali Anda melakukan retret meditasi? Sudah ke mana saja dan bertemu dengan guru siapa saja?
  • 2007: Mindfulness Retret, Hong Kong. Pembimbing: Thich Nhat Hanh (Zen Master dari Plum Village, Prancis).
  • 2007 (dua kali): Meditasi Mengenal Diri (MMD), Vihara Mendut. Pembimbing: Hudoyo Hupudio.
  • 2007: Enlightenment Intensive, Anahata Resort – Ubud. Pembimbing: Jack Wexler.
  • 2008: Mahamudra 1 & 2, Jakarta. Pembimbing: Mingyur Rinpoche (Buddhist Zen Master, dari Tibet).
  • 2009: Retret “Geming, Hening, Bening”, Anahata Resort – Ubud. Pembimbing: Reza Gunawan. 
Ke mana dan kapan Anda pertama kali melakukan retret meditasi itu? Kenapa Anda memilih tempat itu?
 
Pertama-tama, pilihan retret itu bukan karena tempat, tapi siapa pembimbingnya. Saya pengagum karya-karya Thich Nhat Hanh, dan beliau sudah berkeliling dunia untuk mengadakan retret. Tahun 2007 kebetulan beliau ke Hong Kong, yang menurut saya cukup dekat ketimbang harus pergi ke Prancis, ke monastery-nya. Bagi saya, satu pengalaman yang berbeda ketika kita membaca karya seseorang dan kemudian berpraktek langsung di bawah bimbingannya. Yang satu hanya pengalaman nalar, sementara berpraktek langsung merupakan pengalaman lahir batin yang komplet.
 
Ketika pergi untuk yang pertama kalinya, apa yang mendorong atau memotivasi Anda untuk melakukan retret meditasi?

Bermeditasi itu cuma jadi sebatas pengalaman intelektual kalau kita hanya membaca dan mendiskusikannya. Meditasi baru bisa punya kekuatan transformatif jika dilaksanakan dan dicicipi langsung manfaatnya. Hadirnya pembimbing juga sangat membantu karena mereka bisa memberi pengarahan langsung, bahkan kehadiran mereka saja secara energetik sudah punya kekuatan tersendiri. Jadi, yang ingin saya alami adalah sebuah pengalaman langsung. 

Perasaan apa yang timbul ketika Anda melakukan retret meditasi (misal: terharu, damai, self-fulfillment, dsb.) dan apa yang bisa menyebabkan Anda merasakan perasaan itu?

Seringnya adalah ‘a-ha moment’ yang terjadi di ujung retret. Macam-macam istilahnya, ada yang bilang itu pencerahan kecil, atau satori, dsb. Kalo perasaan yang timbul sih nggak semuanya bersifat tenang, damai, dsb. Terkadang dalam retret yang intensif, justru kita harus berani menghadapi “inner demons” kita. Semua trauma, luka batin, dsb, bisa keluar dan teramplifikasi pada saat retret, tapi di sanalah justru proses penyembuhan terjadi. Yang penting dalam retret adalah jangan punya ekspektasi yang melulu cuma bagus dan enak-enaknya saja, justru kita harus siap dengan segala kemungkinan dan menghadapi diri sendiri. 
 
Apakah setiap retret meditasi itu menimbulkan perasaan atau kesan yang sama? Perjalanan yang mana yang menimbulkan perasaan atau kesan paling mendalam? Kenapa?

Setiap retret beda-beda. Tergantung situasi mental kita, jatah karma kita, dan juga dinamika yang terjadi antara kita, peserta lain, dan guru kita. Yang jelas, selalu ada pelajaran, pencerahan, pengalaman yang bermanfaat dari setiap retret. Setidaknya demikian dalam pengalaman saya pribadi.
 

Mengapa Anda merasa penting untuk melakukan retret meditasi lebih dari sekali, apakah pengalaman yang kedua, ketiga, dan seterusnya berbeda dari yang pertama? Bisa tolong ceritakan sedikit saja mengenai ritual-ritual yang Anda lakukan dalam retret meditasi itu?
 
Setiap retret akan punya metode tersendiri, tergantung tema dan pembimbingnya. Kalau Mindfulness Retret, kita belajar cara untuk menjadi mindful atau menyadari setiap yang kita lakukan, dari mulai makan, berjalan, dsb, dikombinasi dengan ceramah, tanya jawab, dsb. Kalau Enlightenment Intensive, kita menjalankan dyad yakni format meditasi yang dilakukan berdua dengan peserta lain, dikombinasi juga dengan surrender meditation. Kalau MMD, kita full meditasi duduk dari subuh hingga malam, diselingi tanya jawab, meditasi berjalan, dsb. Kalau Mahamudra bukan format meditasi intensif, tapi lebih seperti proses belajar saja. Biasanya kalau meditasi intensif sudah pasti harus menginap, ada noble silence yang artinya tidak berbicara selama retret (kecuali saat tanya jawab).
 
Apakah Anda merasakan adanya spiritual enlightenment dari retret meditasi yang Anda lakukan? Seberapa besar spiritual enlightenment yang Anda rasakan? Dan apa penyebabnya?

Spiritual enlightenment nggak bisa diukur besarnya. Kita hanya bisa merasakan efeknya pada pemahaman dan hidup kita. Spiritual enlightenment juga nggak bisa dijadikan tujuan, semakin dikejar malah semakin nggak dapet. Ini sesuatu yang sulit dijelaskan, tapi harus dialami langsung. 
 
Apakah ada perbedaan dengan spiritual enlightenment yang timbul dengan hanya bermeditasi di rumah atau di Jakarta saja?
 
Enlightenment itu bisa terjadi di mana saja, nggak harus dalam retret. Di rumah, di mana pun, kalau memang sudah saatnya ya terjadi. Tapi bedanya kalau retret kita berkesempatan untuk benar-benar memfokuskan energi kita ke dalam diri. Jadi jauh lebih intensif ketimbang kita melatih meditasi di rumah. Bagi saya, latihan di rumah itu seperti maintenance, tapi setahun sekali atau dua kali setahun, sebaiknya kita meluangkan waktu untuk retret karena itulah kesempatan kita untuk benar-benar membersihkan “mind stuff” yang bertumpuk selama hidup dalam keseharian. Kalau dalam istilah komputernya seperti di-defrag. Atau “turun mesin” lah kira-kira. 
 
 Seberapa lama spiritual enlightenment itu bertahan setelah Anda pulang dari retret meditasi?
 
Tergantung seberapa rajin kita menjalankan prakteknya dan mengaplikasikannya dalam keseharian. Semakin rajin, ya, semakin lama efeknya. 
 
Apa yang Anda lakukan untuk mempertahankan spiritual enlightenment yang Anda dapatkan dari retret meditasi?

Luangkan waktu untuk bermeditasi harian. Kebetulan, Reza suami saya, punya kegiatan meditasi kelompok setiap hari Rabu. Kegiatan mingguan semacam itu juga membantu untuk mengasah kepekaan kita sekaligus berbagi pengalaman bersama orang-orang lain. 
 
Menurut Anda, sebenarnya apa definisi dari spiritual enlightenment dan apa manfaatnya bagi kualitas kehidupan seseorang sebagai?
 
Tujuan dari praktik meditasi adalah hidup secara sadar. Itu saja. Sadar di sini bukan berarti sekadar melek atau nggak pingsan, melainkan menyadari semua tindakan, pikiran, kondisi mental kita. Karena banyak sekali problem dalam kehidupan yang terjadi hanya karena kita nggak “sadar”. Kita marah, kita emosi, tanpa tahu apa yang benar-benar terjadi dalam diri kita. Kita cenderung melihat segalanya ke luar, eksternalisasi. Akibatnya kita selalu mencari kesalahan pada orang lain. Jarang kita benar-benar melihat ke dalam diri dan mencari tahu siapa sebetulnya yang disebut “aku”, siapa “diri kita” yang sesungguhnya. Ketika kita bisa sadar itu, otomatis pemahaman kita akan hidup, akan diri kita, dan orang lain, akan berubah.